Akhlak Adalah Jendela Nasib -

                                                AKHLAK ADALAH JENDELA NASIB






Akhlak Adalah Jendela Nasib - Asalamualaikum Warahmatullahi wa Barakatuhu. Pertama tama, Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Taala yang dengan rahmat, ridha dan maghfirah-Nya kita masih diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menapakan kaki dimuka bumi dan menghirup udara pemberian Ilahi. Juga Shalawat dan Salam semoga senantiasa dilimpahkan pada Junjungan kita, pemimpin segala yang ada dimuka bumi sekaligus rahmat bagi seluruh alam semesta, tiada lain dan tiada bukan adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Salam yang darinya kita mengenal Tuhan kita, darinya kita mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, darinya pula kita mengetahui mana jalan yang lurus dan mana jalan yang sesat. 

    Allah Subhanahu Wa Taala Berfirman

                     اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ 

" Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (Ar - Rad : 11)

      Manusia terlahir dengan membawa takdir yang telah ditetapkan ribuan tahun sebelum Allah menciptakan alam semesta, yang dimana takdir ini sendiri secara umum terbagi menjadi 2, yaitu: Takdir Mubram dan juga Takdir Muallaq. Takdir Mubram difahami sebagai takdir yang ditetapkan langsung oleh Allah dengan kehendak-Nya sendiri dan bersifat mutlak, final, dan tidak ada ruang bagi siapapun untuk menganggu gugat. Hal-hal yang termasuk takdir mubram antara lain rezeki, ajal, gender, tanggal lahir, tempat lahir, dll. Hal-hal tersebut tidak akan bisa dirubah walau dengan doa sekalipun. Sedangkan Takdir Muallaq sendiri berasal dari kata "alaqa" yang berarti menggantung. Sehingga dapat difahami bahwa Takdir Muallaq adalah takdir yang digantungkan pada ikhtiar manusia untuk menggapainya, seperti nama, pakaian yang dipakai, tinggal dimana, dan dengan siapa kita menikah. Namun tentu dengan izin Allah sebagai syarat mutlaknya. Takdir ini ditulis berdasarkan keluasan ilmu Allah, Allah maha mengetahui apa apa yang ada dilangit, dibumi, yang telah lalu dan yang akan datang. Sehingga misal jika seseorang mengendarai mobil dan bertemu dengan pertigaan, kemudian pada akhirnya dia memilih jalan ke kanan, sebetulnya hal itu sudah tercatat di Lauhil Mahfud sebagai takdir jauh sebelum dia diciptakan ke dunia, akan tetapi hal tersebut bukan berarti Allah menyuruh dia atau memaksa dia untuk memilih jalan ke kanan, tapi karena Allah tau dia akan memilih jalan ke kanan makanya Allah catat itu sebagai takdir di Lauhil Mahfud jauh sebelum dia lahir. Termasuk juga dalam hal ini jodoh, amalan, ilmu, bahkan surga dan neraka nya seseorang telah Allah ketahui dan Allah catat ribuan tahun sebelum alam semesta diciptakan. 

Dari Ubadah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena. Dia berfirman kepadanya, "Tulislah!" Pena bertanya, "Wahai Tuhanku! Apa yang harus aku tulis?" Allah berfirman, "Tulislah ketentuan segala sesuatu sampai kiamat tiba." (HR Ibnu Wahab) 

    Dari sini bisa kita ketahui bahwa nasib umumnya (tidak seluruhnya) termasuk dalam Takdir Muallaq, nasib disini diartikan sebagai keadaan yang menimpa seseorang yang merupakan bagian yang harus dia terima dikarenakan ulah tangan, jeri payah, maupun prilaku dan keadaan yang ada pada dirinya sendiri. Contohnya adalah seseorang yang berkendara ugal ugalan dijalan maka peluang dia kecelakaan menjadi lebih besar meskipun hal itu belum tentu terjadi, akan tetapi jika sampai terjadi kecelakaan maka itu merupakan bagian yang harus dia terima sebagai konsekuensi atas prilaku dia sendiri. Contoh lainnya adalah seseorang yang masuk neraka dikarenakan dosa yang dia lakukan, maka ketetapan Allah untuk memberikan dia hukuman adalah merupakan nasib (bagian) yang dia terima sebagai konsekuensi dari perbuatan dosanya. Dari definisi ini, maka gaji/upah juga termasuk salah satu jenis nasib dikarenakan dia mendapatkan hal tersebut oleh karena dia telah bekerja. Warisan juga termasuk nasib karena ia mendapatkan hal itu disebabkan oleh keadaan dia yang berstatus sebagai ahli waris. Allah Berfirman:

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka itulah yang memperoleh nashib (bagian) dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Maha cepat perhitungan-Nya (QS Al-Baqarah : 202)


لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

Bagi laki-laki ada nashib (hak bagian) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada nashîb (hak bagian) pula dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut nashib (bagian) yang telah ditetapkan. (QS An - Nisaa : 7)

    

     Ada banyak hal yang berpengaruh terhadap nasib seseorang, dan salah satu yang paling vital adalah akhlak dari orang tersebut, akhlak adalah hal yang paling bertanggung jawab pada sikap, prilaku, pola pikir, ucapan bahkan keputusan seseorang. Akhlak memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Akhlak yang baik akan membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia yang berakhlak mulia, dapat menjaga kemuliaan dan kesucian jiwanya, dapat mengalahkan dorongan hawa nafsu, berpegang teguh kepada sendi-sendi keimanan. Menghindarkan diri dari segala sifat-sifat tercela baik yang dapat merugikan dirinya dan/atau orang lain. Manusia yang berakhlak mulia, suka tolong menolong sesama insan dan makhluk lainnya, senang berkorban untuk kepentingan bersama, saling menghormati dan saling menyayangi. Orang yang berakhlak mulia, senang kepada kebenaran dan keadilan, toleransi, menepati janji, mematuhi peraturan, lapang dada dan tenang dalam menghadapi segala problem kehidupan. Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke derajat yang tinggi dan mulia dan akan menempatkan manusia pada posisi terhormat di sisi Tuhan. Akhlak yang buruk akan membinasakan dirinya dan manusia lainnya, menurunkan derajat manusia sampai pada titik terendah bahkan lebih rendah dari binatang ternak. Mendapat tempat terhina di sisi Tuhan dan juga manusia. Senang melakukan kekacauan, senang melakukan perbuatan tercela, dan senang melanggar segala ketentuan, baik yang dibuat Allah apa lagi hanya sekedar buatan manusia.


Apa itu akhlak?

 
      Secara etimologis ahkhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq yang artinya budi pekerti, tingkah laku, adat kebiasaan, perangai atau tabiat, karakter dan watak. Sedangkan menurut istilah adalah karakter yang melekat pada jiwa seseorang yang membuat penyandangnya melakukan sesuatu tanpa berfkir secara mendalam.

      Jika kita merujuk pada salah satu perkataan yang mahsyur bahwa pikiran merubah perkataan, perkataan merubah tindakan, tindakan merubah kebiasaan dan kebiasaan merubah karakter. Maka, akhlak dibentuk melalui pengulangan kebiasaan seorang manusia yang kemudian mengkristal menjadi suatu karakter, yang kemudian disebut Akhlak. Dari sini dapat difahami bahwa orang yang melakukan tindakan baik belum tentu dikatakan berakhlak baik, begitu pula sebaliknya. Seperti contoh marahnya seorang penyabar atau sabarnya seorang pemarah, maka ini tidak bisa dikatakan sebagai akhlak, karena butuh dorongan yang kuat bagi seorang penyabar untuk marah, dan butuh proses pemikiran yang mendalam bagi seorang pemarah untuk bisa bersabar. Sehingga dapat dikatakan bahwa marahnya seorang penyabar bukanlah akhlak yang buruk, melainkan hanya tindakan buruk. Dan kesabaran yang dilakukan oleh seorang pemarah bukanlah akhlak yang baik, melainkan hanya sebuah tindakan baik!. Karena penilaian akhlak seseorang ditentukan dari akumulasi kebiasaannya, dan bukan tindakan yang dia lakukan sewaktu-waktu.

      Akhlak juga mesti dipisahkan dengan naluri alamiah, seperti yang dikonsepkan oleh Mutahhari dalam bukunya yang berjudul "Falsafah Akhlak" bahwa seorang ibu yang menyusui anaknya bukan merupakan sebuah akhlak, karena seorang ibu tidak akan selamanya menyusui anaknya dan dia tidak akan menyusui anak orang lain. Ketika seorang ibu melakukan pemikiran mendalam untuk tidak menyusui anak orang lain maka saat itulah perbuatan tersebut dikatakan bukan perbuatan akhlaki, melainkan hanya perbuatan alami.


Apakah segala tindakan yang berakhlak sudah pasti baik?

    Kita lebih sering mendengar istilah akhlak pada sesuatu yang disepakati bahwa itu adalah kebaikan, seperti menolong orang lain, memberi, memaafkan dll. Akan tetapi pada hal hal yang kita sepakati buruk misalnya mencuri, merusak, membunuh, Alih alih dikatakan akhlak yang buruk justru orang orang yang melakukan perbuatan tersebut malah dikatakan sebagai orang yang tidak berakhlak atau tidak mempunyai akhlak sama sekali. Padahal jika kita kembali pada definisi dan ruang lingkup dari akhlak itu sendiri, sebetulnya keburukan pun bisa menjadi sebuah akhlak. Maka orang orang yang melekat padanya karakter yang buruk lebih tepat dikatakan sebagai orang yang berakhlak buruk alih alih dikatakan sebagai orang yang tidak berakhlak.


Bagaimana cara menentukan standar baik dan buruk?

    Kaum Asyiria mengatakan bahwa kebaikan adalah apa yang diperntahkan atau dihalalkan oleh Allah sedangkan keburukan adalah apapun yang dilarang atau diharamkan oleh Allah. Sehingga kaum ini berpendapat bahwa semerugikan apapun suatu hal apabila hal tersebut masih dihalalkan maka tidak boleh dikatakan atau dinyatakan sebagai keburukan. Contoh dalam hal ini seperti perceraian, poligami tanpa izin, memukul anak dan istri yang membangkang, dll. Begitupula sebaliknya, hal hal yang bersifat menguntungkan jika masih diharamkan oleh Allah maka jangan katakan itu adalah sebuah kebaikan. Contoh dalam hal ini adalah menggunakan khamar sebagai alat pengobatan, melakukan istimna sebagai sarana pelepas stres dll.

   Sedangkan kaum Aqliyah menilai bahwasanya kebaikan adalah sesuatu yang diabstraksi oleh akal budi sebagai sesuatu yang baik, begitupula halnya keburukan. Sehingga kaum ini sepenuhnya menyerahkan penilaian baik dan buruk pada kemampuan akal dalam menilai dan memandang suatu kasus.

   Meskipun materialisme barat mengatakan bahwa akhlak adalah sesuatu yang relatif, namun pandangan islam dan sebagian kaum Intusionisme seperti immanuel Camp menyatakan bahwa akhlak itu bersifat absolut. Karena kecenderungan materialisme dalam merelatifkan akhlak pada akhirnya hanya akan membenturkan akhlak masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Padahal faktanya apapun jenis masyarakatnya, kondisi sosialnya, jenis kelmaminnya  maupun budayanya semuanya menggunakan standar moral yang sama yaitu akal. Sehingga abstraksi akal tersebut kemudian dapat menjadi pedoman untuk menghukumi keabsolutan akal.

   

Akhlak berkorelasi dengan tanggung jawab

    Menurut Taqi Misbah Yazdi, manusia memiliki 4 tanggung jawab. yaitu Tanggung Jawab Kepada Allah, Tanggung Jawab Kepada Diri, Tanggung Jawab Kepada Masyarakat, dan Tanggung Jawab Kepada Alam.

   Tanggung jawab kepada Allah adalah tuntutan untuk mengesakan Allah dan tidak melakukan sesuatu yang mencederai Tauhid. Sedangkan tanggung jawab kepada diri, masyarakat dan alam adalah tuntutan untuk memenuhi kebutuhan diri, masyarakat dan juga alam. Sehingga orang yang tidak memenuhi hak salah satunya maka ia termasuk orang yang dzalim. Dan sudah merupakan kecenderungan Antroposentris dimana kita hanya mengenal istilah Habluminallah dan Habluminannas, padahal ada juga yang dinamakan Habluminal Alam, manusia sering terlalu sibuk memenuhi hak Allah dan sesama manusia sehingga melupakan hak alam, maka dari itu manusia sering ditegur oleh Al - Quran sebagai makhluk yang gemar berbuat kerusakan.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Ar Rum 41)


Relasi akhlak dan agama

    Ada beberapa pandangan dalam hal relasi akhlak dan agama. Pandangan pertama menyatakan bahwa agama dan akhlak tidak ada hubungannya sama sekali. Bahkan agama harus disingkirkan agar tidak menganggu akhlak dalam memandu kehidupan manusia. Pandangan ini didukung oleh Nitse, Karl Marx, dll.

   Pandangan kedua menyatakan bahwa hanya dengan akhlak manusia dapat memahami agama, agama membutuhkan akhlak dan tidak bisa dipisahkan sama sekali, dan akhlak lah yang mesti ditonjolkan demi keberlangsungan agama. Pandangan ini didukung oleh immanuel camp dalam konsep akal praktisnya.

   Pandangan ketiga menyatakan bahwa akhlak adalah bagian dari agama, karena agama sendiri memiliki 3 bagian besar yaitu Aqidah, Akhlak dan Syariat. Diibaratkan akhlak bagai batang dalam pohon agama, dengan akidah sebagai akarnya dan syariat sebagai rantingnya. Dan pandangan inilah yang didukung oleh para filsuf muslim di berbagai belahan dunia. Mereka sepakat bahwa agar pohon keagamaan bertumbuh maka perkokoh akar akidahnya, tinggikan dengan batang akhlaknya dan rindangkan dengan ranting syariatnya.


Kesimpulan

   Orang yang berakhlak baik, adalah akhlaknya akan menuntun dia untuk memiliki rasa tanggung jawab yang dengan rasa tanggung jawab itu dia akan senantiasa menjaga hak diri sendiri dengan melakukan tugasnya dengan baik. Orang yang memiliki rasa tanggung jawab tidak akan korupsi, ugal ugalan ataupun merusak fasilitas karena akan melanggar hak masyarakat, juga akan senantiasa bijak dalam menggunakan sumber daya alam karena itu termasuk menjaga hak alam, dia akan berusaha memperbaiki pencemaran alam, pengikisan ekosistem, kemajemukan masyarakat, hingga membangun ikatan kerja sama diatas cinta sesama manusia.

    Dan jika akhlak seseorang bagus maka korelasi hidup dia dengan agamanya akan senantiasa bagus, dia tidak akan berani melakukan perbuatan dzalim, dia akan terdorong untuk membantu orang orang yang kesusahan, menyetarakan kesenjangan dan menyenjangkan sesuatu yang tidak semestinya setara. Dan tentu dengan ini semua, nasib yang baik akan senantiasa menyertai dan merindukan mereka, kehidupan akan berjalan damai karena hak hak terpenuhi, sejahtera karena kesenjangan sudah berbalik merata, dan tentu saja, rasa peduli dan bersyukur akan semakin tercipta.

Akhirul Kalam. Wassalamualaikum Wr. Wb


Penulis : Agus Nurhidayatullah


Komentar

Postingan Populer